Saturday, September 24, 2016

Alana #4

Hasil gambar untuk love quotes
Source Google

18 September, menjadi hari bersejarah bagi kami berdua. Sejak saat itu kami bagaikan sepasang sepatu. Tidak selalu bersama namun berjalan beriringan saling melengkapi, aku merasakan hidupku semakin lengkap. Sebulah kemudian aku memberanikan diri mendatangi rumahnya di minggu pagi. Sambutan kedua orang tuanya begitu ramah, hanay saja mereka meminta aku agar tidak terlalu banyak bermain apalagi sudah kelas 3 dan fokus kepada pelajaranku.

Minggu berikutnya aku membawa Lana ke rumah, seumur hidupku baru kali ini aku membawa seseorang yang begitu spesial ke rumahku. Nuning saja yang sudah bersahabat denganku sejak SMP belum pernah ke rumahku sendirian. Dua kali dia datang bersama teman-temanku yang lain, ketika syukuran sunatan Adikku dan ketika aku sakit.


Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku, apalagi saat itu kami pergi menggunakan angkot dan turun di pasar. Untuk menuju rumahku yang sekitar 5 kilometer harus menyambung angkot lain yang adanya satu sampai dua jam sekali. Tapi aku melihat Lana menikmati perjalanan kami, senyum tak lepas dari wajahnya dan sepanjang perjalanan dia berceloteh tentang banyak hal. Tak hanya cantik, Lana pun memiliki pengetahuan yang lumayan.

Sebenarnya yang aku takutkan reaksi Abah, karena abah tidak mengijinkan aku berpacaran sebelum aku bekerja. Entah kenapa aku yakin sekali bahwa Lana kelak akan menjadi pendampingku. Oleh karenanya aku pun memperkenalkannya kepada kedua orang tua dan keluargaku. Ibu sudah mengetahui rencanaku tapi Abah masih belum tahu.

Semakin dekat rumah semakin berdebar jantungku. Dari jalan raya kami harus berjalan sekitar 500 meter untuk sampai rumahku yang berada paling ujung. Matahari pukul 11 siang cukup terik, wajah Lana sudah merah seperti kepiting rebus dan air yang dia bawa sudah hampir habis tapi senyum tidak menghilang dari wajahnya.

Sampai di depan rumah ada Amar dan Aisha sedang bermain, aku mengucapkan salam dan Aisha langsung berlari menghampiriku. Mengulurkan kedua tangannya untuk digendong dan mata nya menatap Lana ingin tau. Dengan ramah Lana menyapa Fatimah dan berkenalan, dengan cepat  Fatimah beralih ke gendongan Lana. Dari dalam Ibu dan Aisha muncul bersama Hasan.

Dengan khidmad Lana mengucapkan salam dan sambil menggendong  Fatimah mencium tangan Ibu.

"Mas Adit, kok Mbak Lana disuruh gendong  Fatimah. Kan Fatimah kotor habis main tanah." Ibu menegur dengan lembut, belum sempat aku menjawab Lana sudah mendahului

"Nggak apa-apa kok Ibu."

Kami pun masuk dan  Fatimah baru mau turun dari gendongan Lana.

"Abah mana bu ?" aku bertanya

"Masih di sawah, sebentar lagi juga pulang."

Tak lama kami mengobrol Abah pun pulang melalui pintu belakang, seperti biasa sehabis dari sawah abah akan lewat pintu belakang dan membersihkan diri sebelum ke ruang depan. Sampai di ruang depan abah cukup kaget melihat kami semua duduk dan ada Lana.

"Ada tamu rupanya"

"Iya Bah, ini temennya Mas Adit. Mbak Lana namanya."

"Oh, teman sekolah Adit ?"

"Nggih Abah" Lana menjawab sambil mengulurkan tangan untuk mencium tangan abah, dengan ramah abah mengulurkan tangannya. Padahal biasanya abah hanya mengangguk dan tidak ikut mengobrol. Tapi siang ini abah tidak hanya mengangguk tapi juga mendekati kami dan ikut mengobrol bersama.

............

Dua bulan berlalu, banyak perbedaan pendapat diantara kami. Ternyata sifat Lana jauh lebih keras dari sifatku tapi juga cukup dewasa. Di satu sisi aku mengalah padanya di sisi yang lain dia mampu mengalah padaku.  Aku mendukung penuh keinginannya menjadi Paskibraka walau aku tidak bisa selalu menemani latihannya tapi dia tahu aku selalu mendoakannya.

Siang sepulang sekolah, sebelum dia latihan dan sebelum aku melanjutkan bimbingan belajar kami biasanya menghabiskan 10 menit makan siang bersama sambil bertukar cerita. Karena semakin hari kami semakin jarang dan sulit bertemu maka kami sepakat membuat satu buku yang mana berisi kegiatan sehari-hari kami. Jadi kami mengobrol melalui buku dan akan ditukar setiap hari Jum'at.

Hasil gambar untuk love quotes
Source Google

Beberapa bulan ini kehadirannya banyak membawa perubahan positif dalam diriku. Aku lebih banyak tersenyum, lebih banyak bersyukur dan lebih konsentrasi meraih mimpiku. Aku ingin kuliah di Jogja dan mengambil jurusan matematika, aku ingin menjadi dosen matematika dan inggris. Dua mata pelajaran yang sudah menjadi favoritku sejak SD.

Keinginanku ditentang Abah, dia ingin aku kuliah di sini saja dan membantu dia serta Ibu menjaga adik-adikku. Kuliah di STAIN sambil mengajar honorer di sini, tapi mimpiku terlalu jauh. Biasanya argumentasi kami mentok dan berujung perdebatan yang akhirnya kami berdiam diri tanpa bertegur sapa. Tapi dengan kehadiran Lana seolah mimpiku kembali bersinar dan aku semangat mengikuti jalur beasiswa setelah sempat putus asa.

Bersamanya aku merasa lebih hidup dan lebih tegar, walau kami lebih banyak bercerita di buku. Tapi aku seolah mendengar celoteh riangnya, senyum tulusnya dan cahaya di matanya yang indah. Aku selalu merasa dia ada di sisiku dimanapun aku berada, terima kasih cinta untuk selalu ada bagiku.

Terima kasih cinta, untuk segalanya
Kau berikan aku kesempatan itu
Afgan - Terima Kasih Cinta

2 comments:

  1. Yaampuuun aku baru baca Alana Adit. Maygaat maygaaat. Go go Adit kejar mimpimu kaak!

    Btw based on kisah nyata kah mamtir? *kedipkedip*

    ReplyDelete

Syukron for coming ^^

Followers

Follow by Email