Saturday, September 10, 2016

Alana #2

Hasil gambar untuk love at first sight quotes

Alanavera Sastrowidjoyo - seorang gadis yang mampu menuatku berpaling, membuatku tersenyum tanpa alasan dan membuatku menunggu. Menunggu saat dimana dia sengaja melewati kelasku hanya untuk melempar senyum manisnya padaku, bagaimana dia duduk di depan kelasnya sepulang sekolah hanya demi melihatku keluar dari kelasku dan tersenyum manis.

Alana, yang setiap istirahat selalu tertawa bersama teman-temannya dan memakan bekal di bawah pohon jambu di belakang kelasnya. Alana yang setiap di hukum selalu tersenyum bahkan ketika di hukum harus push up 20x tetap senyum mengembang walau peluh sudah menetes deras. Alana - ah, sepertinya benar kata Doni, aku telah Jatuh Cinta.

....


Kali ini kebalikan dari sebelumnya, justru aku, Raditya Agung Wibowo malah mengejar seorang gadis. Selama 17 tahun aku tidak pernah sekalipun perduli atau bahkan mengejar seorang gadis kali ini aku takluk dengan senyuman manis dan mata bercahaya milik Alana. Dua mata bulat yang selalu tersenyum dan bercahaya, bibir yang tidak pernah merengut selelah apapun (kecuali ketika tanpa sengaja aku menyenggol botol minumannya dan pecah berderai).

Bahkan demi Alana aku rela menunggu dia yang sedang ikut kegiatan ekstra, aku yang menelan gengsi duduk menunggunya di pinggir lapangan. Jam 4 sore kegiatan berakhir dan aku melihat dia keluar dengan teman - temannya, aku mendekatinya dan menyapanya.

"Lana" Aku melihat kekagetan di wajahnya, bahkan di wajah teman-temannya. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, spersekian detik yang kurasakan begitu lama aku hanay diam menunggu jawaban Lana.

"Ada apa kak Adit ?" Lana bertanya tapi aku tak mampu menjawab, mulutku seolah terkunci rapat. Padahal aku sudah menyiapkan kata-kata sebagai bentuk permintaan maaf. Melihat aku yang masih diam, Lana meminta teman-temannya meninggalkan kami. Setelah kami tinggal berdua Lana berjalan menuju kursi taman di pinggir lapangan. Aku pun menyusulnya, masih dalam diam dan duduk di sebelahnya dengan jarak hampir satu meter.

Hasil gambar untuk love at first sight quotes
Source Google

"Lana, maafin Kak Adit ya"

"Soal apa kak ?" aku mendengar suaranya seolah tidak ada yang terjadi, tapi ada getar halus yang kurasakan.

"Semuanya"

"Maksud Kak Adit ?"

"Soal botol minuman Lana, sikap cuek Kak Adit dan kekasaran Kak Adit ke Lana."

"Oh, itu. Nggak apa-apa kok. Lana udah lupain semua, Kak Adit nggak usah ngerasa nggak enak gitu."

Aku terkesiap, sebegitu ringankah dia memaafkanku ? setelah apa yang kulakukan padanya. Aku pun memberanikan diri menengok dan menatap wajahnya, aku tak menduga ketika aku memalingkan wajahku pandangan kami beradu. Dua bola mata bundar itu menatapku dalam-dalam seoalah mencari sesuatu ke dalam mataku, seketika aku langsung lemas dibuatnya. Aku tak bisa lagi berfikir apa yang kukatakan, satu yang pasti aku berkata.

"Lana, kamu mau jadi pacarku ?"

Mata bundar itu langsung bertanya-tanya, seolah memastikan apakah barusan yang kukatakan itu benar atau hanya angin lalu. Kebisuan diantara kami akhirnya dipecahkan oleh suara Pak Surdi

"Neng Lana, Mas Adit belum pulang ? Jam 6 gerbang ditutup ya."

"Baik Pak, ini kita udah mau pulang kok." Lana menjawab Pak Surdi, sedangkan aku masih duduk diam terpaku.

"Kalau Kak Adit serius, nanti malam Kak Adit telpon ke rumah Lana ya." Lana pun berlalu meninggalkan aku di sana. Aku pasti akan menelponnya, janjiku dalam hati. Tapi, bagaimana bisa aku menelponnya aku saja tidak tahu nomor rumahnya. Sial, kenapa aku bisa lupa menanyakan berapa nomor telponnya. Ku kejar Lana ke gerbang ternyata dia sudah tidak ada, aku pun menyesali kebodohanku dan berjalan pulang.

Hasil gambar untuk love at first sight quotes
Source Google
Akhirnya, aku mendapatkan nomor telepon rumahnya dari Doni. Tidak sia-sia aku mengayuh sepeda sejauh dua kilometer untuk ke rumah Doni dan kembali mengayuh satu kilometer lagi untuk menuju wartel. Sampai di wartel sudah jam 8 malam, dengan peluh dan jantung hampir copot aku pun memencet nomor rumah Lana.

Ternyata perjuanganku tidak cukup sampai di sana, Ayahnya mengangkat telpon dan menayankan hal panjang lebar di lima menit pertama sampai akhirnya Lana menjawab telponku. Dia menanyakan sekali lagi apa yang kukatakan di telpon, aku mengulanginya dan dia berkata.

"Lana sudah dengar Kak Adit, kalau Kak Adit mau tau jawaban Lana nanti hari senin selepas upacara Lana akan kasih jawabannya."

Ternyata penantian itu lebih nggak enak, apalagi harap-harap cemas dengan jawaban yang akan Lana berikan. Bagaimana kalau jawabannya menolak ??? Atau justru menerima ???


Kau harus bisa berlapang dada
Kau harus bisa bisa ambil hikmahnya
Karena semua tak lagi sama
Walau kau tahu diapun merasakannya

Kemana ini akan membawaku 
Aku tak pernah tahu

Sheila on 7 - Lapang Dada

No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^

Followers

Follow by Email