Saturday, September 3, 2016

Alana #1

Hasil gambar untuk i will always love you
Source Google

Apa sih yang ada di pikiran kalian mengenai seseorang dari masa lalu ? Entah dia yang emang terlalu indah untuk dikenang atau mungkin terlalu sakit untuk dilupakan. Aku ingin berbagi pengalamanku dengan kalian, sampai hari ini aku belum bisa melupakan dia. Dia adalah orang dari masa laluku, aku mengenalnya di masa SMA, awalnya aku membencinya karena bagiku dia terlalu to the point dan memaksakan kehendak. Sampai akhirnya takdir membawaku mencintainya, bahkan tidak rela kehilangan dia.

Namanya Alana biasanya teman-temannya memanggilnya Lana, dia adalah juniorku. Sebagai OSIS dan murid kelas 3 sudah menjadi tugasku untuk mengenalkan sekolah kepada murid-murid baru, salah satunya Lana. Tapi Lana tidak berada langsung dibawah bimbinganku, dia berasal dari kelas lain.

Pertama kali aku melihatnya, dia seperti remaja umumnya. Energik dengan rambut sebahu dan pipi chubby, yang paling mudah untuk dikenali. Selain itu dia sangat ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja, tidak heran walau masih musim perkenalan murid baru tapi dia sudah terkenal di kalangan siswa dan guru.

Saat itu biasa saja, sampai di hari terakhir pengenalan sekolah Lana berdiri di luar ruang kelas yang aku bimbing. Aku kira seperti biasa dia menunggu salah seorang sahabatnya yang kebetulan berada dalam kelas bimbinganku. Tapi dugaan ku salah besar, begitu aku keluar kelas setelah memimpin do'a, Lana justru memanggilku.

"Kak Adit" aku pun menoleh, dua kali memastikan Lana memang benar memanggilku, belum sempat aku menjawab Lana sudah berada di depanku

"Minta foto bareng dong" aku kaget setengah mati mendengar permintaannya, begitu ringan dia meminta foto bersama tanpa tedeng aling-aling. Jelas aku menolaknya, tanpa banyak kata aku pun langsung menolak dengan ketus.

"Nggak bisa" dan aku pun berlalu menuju ruang OSIS, aku masih melihat dari pantulan kaca jendela kelas Lana ingin mengejarku tapi teman-teman menahannya. 

....

Hari berlalu, masa pengenalan sekolah sudah seminggu berlalu dan hari ini adalah hari pertama kegiatan ekstrakurikuler. Aku mengikuti kegiatan Pramuka, Paskibra, Basket dan PSTD. Hari ini adalah hari pertama latihan untuk paskibra, pengenalan antara senior dan junior. Berhubung aku adalah Pak Lurah maka aku pun mengemban tugas untuk melakukan perkenalan.

Begitu masuk ruangan betapa kagetnya aku melihat Lana sudah duduk paling depan. Aku heran gadis selincah dan semenarik Lana (kuakui dia sangat menarik, bahkan beberapa rekanku di OSIS sudah menyatakan niat akan mendekatinya) mau ikut kegiatan yang bisa bikin hitam dan jelek. Lana duduk di depan bersama Sakura, salah seorang sahabatnya yang kebetulan adalah bimbinganku di masa perkenalan dulu.

Lana memiliki modal utama sebagai seorang paskibra, tingginya sekitar 167cm yang mana cukup tinggi diantara ukuran rata-rata perempuan Indonesia yang berkisar di 155-160cm saja. Satu persatu calon paskibra (capaska) berkenalan dan menyebutkan alasan mereka. Tibalah giliran Lana berkenalan dan menyebutkan alasannya.

"Halo, perkenalkan nama sala Alanavera Sastrowidjoyo. Sejak SD saya sudah suka kegiatan baris berbaris, alasan saya ikut paskibra selain ingin menjadi Paskibraka juga karena Kak Adit."

grrr.....seisi ruangan langsung tertawa, Irfan salah seorang rekanku iseng bertanya

"Emang ada apa dengan Adit, Lana ?"

"Lana suka sama kak Adit"

Bumm....!!!Aku merasakan ada yang meledak dalam hati ini, ada yang terbang dalam perut ini dan sedikit pusing. Seisi ruangan langsung tertawa dan meledel Lana juga beberapa meledekku. Tapi Lana tetap di sana dan berdiri teguh walau ada semburat merah di pipinya yang seperti mantau. Aku sendiri merasakan hawa panas menjalar wajahku, menahan malu aku pun keluar ruangan.

....

Hasil gambar untuk love at first sight quotes
Source Google

Sudah sampai Agustus dan selama ini Lana konsisten mengejarku, bisa aku katakan mengejar karena dimanapun dia berusaha mendekatiku dan mencari momen kebersamaan denganku. Bahkan buku merah putih dan cokelat milikku bisa ada ditanggannya. Padahal jelas-jelas aku sudah menolak permintaannya untuk meminjam bukuku. Tapi kehadirannya seolah biasa bagiku, aku yang selama 17 tahun sendiri dan tidak pernah memiliki teman dekat merasa dia bagitu pas, hampir sempurna.

Bahkan Nuning, temanku sejak SMP menggoda bahwa aku telah jatuh cinta. Karena betapa keras aku menolak Lana aku tetap memperhatikan dia dari jauh. Nuning bilang setiap dekat Lana atau Lana ada di sekitarku, langsung wajahku berubah. Entah apa maksud Nuning tapi aku masih belum yakin kalau aku sudah jatuh cinta. Maklum saja, walau aku termasuk most wanted  (berdasarkan survey - entah apa indikatornya, tapi namaku selalu ada di urutan pertama mading) di sekolah tapi aku belum pernah merasakan jatuh cinta.

Aku merasa tidak nyaman dekat dengan perempuan (kecuali Nuning yang sudah seperti saudaraku sendiri). Dengan teman-temang lain pun aku sekedarnya, walau tidak sedikit yang salah mengartikan kebaikanku padanya. Aku pun paham gelagat mereka yang sedang mendekatiku, biasanya sekali diberikan wajah dingin (kalau kata Nuning mirip banget sama Edward Cullen) mereka akan mundur teratur dan biasa saja.

Tapi Lana berbeda, semakin keras aku menolaknya semakin gigih dia mendekatiku. Aku tidak tahu apa motivasinya mendekatiku. Dia populer, tidak sedikit yang mengantri untuk berkenalan, makan bersama, mengantarnya pulang atau bahkan meminta menjadi pacarnya. Mulai dari yang paling keren di sekolah, yang bawa mobil, sepeda motor bahkan sepeda biasa, dari kelas X sampai XII dan juga beberapa guru baru yang masih muda mengejarnya namun dia seolah biasa saja. Dia memang menolak mereka tapi tidak ada yang sakit hati justru mereka semua menjadi temannya.

Hasil gambar untuk love at first sight quotes
Source Google

Aku ingat hari itu, cuaca cerah cenderung panas di bulan september. Bulan penghabisan musim kemarau atau musim panas dan bersiap memasuki musim hujan. Selepas kegiatan ekstrakurikuler aku duduk dipinggir lapangan bersama Doni, sahabatku. Lelah kami sehabis berlatih basket, sambil mengobrol ringan kami meluruskan kaki yang lelah. Lana datang dan menghampiri kami dengan senyum ceria.

"Halo Kak Doni, Kak Adit"

"Hai Lana" Sapa Doni, aku hanya diam dan menunduk tapi masih memperhatikan dia dari ekor mataku

"Kak, ini Lana bawakan Infused Water buat Kak Adit." Lana menyodorkan sebotol minuman yang di dalammya terdapat potongan Lemon. Aku menolaknya dan tanpa sadar menyenggol tangannya ketika akan berdiri. Botol itupun jatuh ke lapangan basket dan pecah. Sekilas aku terpana tapi karena aku bingung harus bagaimana akhirnya aku pun pergi dan menuju ruang ganti.

Di ruang ganti Doni menghampiriku.

"Adit, lo kenapa sih ? Klo nggak mau atau nggak suka kan lo bisa bilang baik-baik, nggak usah nolak cara gitu. Kampungan banget sih, lo sampe bikin Lana nangis dan lo pergi gitu aja."

"Sori Don, bukan maksud gue. Nggak sengaja juga tadi gue mecahin. Emang Lana nangis ?"

"Iya"

Aku bergegas akan ke depan tapi ucapan Doni membuatku terpaku

"Nggak usah di kejar, dia nangis sambil lari pulang. Tadi gue liat dia pulang bareng Sakura dkk. Hati-hati Adit, bisa jadi lo malah jatuh cinta sama dia sedangkan dia udah lupa sama lo."

Omongan Doni menghantuiku berhari-hari, tapi aku tidak tahu harus apa. Nuning, Doni bahkan Abah dan Ibu heran dengan tingkahku. Aku yang biasanya tak sedingin wajahku, menurut mereka berubah menajadi semakin dingin. Semakin hari aku semakin susah didekati dan kini sudah seminggu Lana tidak mendekatiku. Bahkan jika berpapasan denganku dia memilih menghindar, jika tak sengaja kami bertatapan aku melihat kesedihan di mata yang biasanya bercahaya itu dan segera menghindariku.

Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama asyik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya
Kunto Aji - Sudah Terlalu Lama Sendiri

No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^

Followers

Follow by Email