Saturday, December 19, 2015

Senandung Rindu Tebing Keraton

Beberapa waktu lalu ketika gie mengunjungi emak di Bandung, emak cerita mengenai Tebing Keraton sebuah destinasi wisata yang (baru) gie tahu di daerah Dago yang masih dalam kawasan Taman Hutan Raya IR. H. Djuanda, terletak di desa Ciburial kecamatan Cimenyan - Bandung. Nganterin emak ke sini tapi belum berkesempatan naik langsung ke atas, emak bersama rombongan pengajiannya yang berusia lanjut dan hebatnya mereka berjalan bersama dan tidak menggunakan Ojeg.

Akhir november lalu gie berkesempatan kembali ke sini bersama Kak J, Mas W, Kk Ndy, Oyi dan Kak S. Berangkat malam minggu sekitar jam 12 dari bekasi, gie, Kak J dan Kk Ndy sudah membawa perlengkapan perang, Bantal, Jaket, juga makanan ! Kebagian duduk di tengah sama Kak S yang imut-imut, di depan Kak J dan Mas W yang bomber dan di belakang Kakek Oyi dan Kk Ndy yang nggak kalah bomber. Jadilah persediaan makanan ada di tengah, diantara gie dan Kak S :D (dasar aja gie juga doyan makan jadi makanan harus deket :p)

Berangkat ditemani oleh suara Kk Ndy dan Kake Oyi yang sibuk karokean, ternyata Mas W kelelahan dari Oslo, jadilah di rest area bertukar tempat dengan Kak S. Dikarenakan Kak S menyetir, jadilah gie pun pindah lokasi duduk ke depan dan jadi navigator. Selepas istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Tebing Keraton. Kak J bertanya berapa lama lagi sampai, Kak S menjawab sekitar 2 jam lagi (jam 4 pagi). Selepas bertanya semua penumpang langsung terlelap, nasib navigator menemani driver deh sampai tujuan wkwkwkwk.

Selepas km 97, kabut semakin menebal kami pun berjalan lebih lambat. Tol cipularang pagi itu cukup sepi, ada beberapa truk dan mobil pribadi dengan kecepatan sedang. Kak S membawa mobil dengan santai, alhamdulillah sekitar jam 3 pagi kami sudah sampai di pasteur dan langsung menuju Tebing Keraton. Berdasarkan informasi Emak dan juga hasil pencarian Mas W kami sampai dengan selamat di parkiran TK (tebing keraton). Walau sempat salah belok wkwkwkwk....sampai di parkiran kami langsung di tawari ojeg ke atas (tarif parkir IDR 10k) dan tarif Ojeg IDR 20-30k.

Jalan dari pasteur ke Dago memang naik dan berkelok khas Bandung, tapi yang buat uji adrenalin adalah ketika berbelok dari Dago menuju ke TK. Alhamdulillah Kak S sangat tenang membawa mobil, jalanan menanjak dan tidak semua mulus, kegelapan juga jalanan yang cukup sempit berhasil kami lalui dengan aman, nyaman dan damai. Para penumpang lain terbangun ketika sudah sampai di Dago dan sedikit nyasar akibat gie gagal fokus dan salah belok :D

Sedikit Drama ketika kami akan naik ke atas dari parkiran, Kak J yang belum makan dari sore mendadak muntah-muntah. Padalah Kk Ndy, Kakek Oyi dan Mas W sudah jauh di depan, kami hanya bertiga berjalan naik ke atas dan sesekali ditawari oleh para pengojeg. Kak J masih bersikeras tidak mau naik ojeg sampai setengah perjalanan dan Kak J semakin semaput. Pada saat Kak J muntah terakhir kali, ada panggilan alam dan sibuk mencari tissue basah. Kami bertiga tertawa keras, bahkan Kak J yang sedang muntah pun ikut tertawa karena Kakek Oyi sibuk mencari untuk mas W wkwkwkwkk...

Akhirnya Mas W memaksa Kak J untuk naik Ojeg, gie pun ditugasi untuk menemani kak J. Setengah perjalanan Ojeg pun hanya IDR20k sampai atas. Alhamdulillah sampai di loket TK (sekitar jam 4.15) adzan subuh berkumandang. Kak J beristirahat di Loket dan gie pun menunaikan kewajiban. Sedikit ngeri karena harus turun ke bawah sendirian dan tangga nya tanpa penyekat atau pagar. Sambil menunggu yang lain naik ke atas gie pun mengobrol dengan dua orang penjaga loket. Mereka buka sejak pkl. 04.00 WIB dan tiket untuk WNI IDR11k sedangkan WNA IDR51k.

Finally, para pejuang pejalan kaki pun sampai di Loket dan nggak sadar kalau gie ada di dalam dan membantu melayani pembelian tiket kwkwkwkkkk....perjalanan dari Loket ke spot sudah di paving block sehingga memudahkan pengunjung. Naik turun mendaki gunung lewati lembah (inget lagu Ninja Hatori kan #generasi90an) Alhamdulillah sampai di lokasi. Sayang kami menghadap ke kota bandung yang mana matahari terbit di belakang kami (di balik bukit sehingga kami tidak bisa melihat terbitnya matahari (seperti di Bromo) namun suasana begitu indah. Sudah ramai juga pengunjung yang datang bersama kami, dari mulai anak muda hingga keluarga.





Maha Besar Allah dengan segala keindahannya, sungguh keindahan melihat langit berubah warna, cahaya lampu di kota bandung hingga udara yang begitu jernih (sempat terganggu yang merokok juga sih :( )bersama dengan orang-orang terkasih menikmati kesempurnaan ciptaan-Mu yaa Rabbi. Sungguh hanya mampu berdzikir bibir ini mengucap syukur diberikan kesempatan untuk datang ke TK dan menikmati alam ciptaan Mu yang begitu indah, mengalami masa teristimewa.


Kecapekan dan Jadi korban Lensa Mas W
Selepas dari TK kami menuju Lembang Floating Market untuk sarapan sesi kedua yang sangat terlambat wkwkwkwkk. Rencana ke Sapu Lidi ternyata tempat nggak sesuai, kedua ke Warung Daun belum buka akhirnya kami memutuskan ke Lembang Floating Market (LFM). Berhubung gie udah nggak jadi navigator dan pindah ketengah gie pun langsung tertidur sampai Kak S membangunkan gie dan bertanya arah jalan, baru bangun tidur jadi gagal fokus (lagi). Lagi kasih info ke Mas W tetiba dari kiri mobil di serempet Andong. Alhasil Kak J dan Kak S pun turun dan berbicara dengan kusir Andong, alhamdulillah tidak ada pertumpahan darah :D

Di LFM Kak S sibuk minta makan tutut, padahal di TK tadi belum sempat sarapan. Akhirnya setelah perdebatan panjang dia memilih Duren Bakar. Masuk LFM berenam dengan mobil bayar IDR100k termasuk 6 voucher welcome drink yang bisa ditukarkan di dalam. Kami berlima memilih orange juice dan Kak S memilih lemon tea.Kak J dan Mas W memilih kudapan dari singkong, Kk Ndy kentang, Kakek Oyi gemblong dan dumpling (lupa nama) dan gie pun memilih pisang goreng (dayang sumbi). Jangan lupa tukarkan uang anda dengan koin LFM.

Dari LFM kami pun turun ke bawah menuju Sambal Hejo, Kak S sejak berangkat sibuk minta makan di sini. Akhirnya setelah pergolakan karena semua supir mengantuk, Kak J yang sempat ketiduran pas bawa mobil dan macet di Cihampelas, salah berhenti (padahal bener) di sambel hejo akhirnya kami pun sampai di sambel hejo Jl. Natuna. Benar saja Kak S langsung makan dengan lahap, mas W pun membelikan kami mangga harum manis dan gedong gincu untuk dessert. Melihat Kak J dan Mas W yang sudah ngantuk berat, gie pun meminta Kak S untuk membawa mobil menuju Alun-alun. Rencananya kami akan beristirahat sejenak sebelum pulang ke Jakarta. Benar saja di mobil semua penumpang langsung tidur, biar ga ngantuk gie pun sibuk selfie, wefie dan main suit jepang sama Kak S.

Hampir sampai alun-alun tetiba Kak S minta pulang, ampun dije akhirnya kami pun berbelok. Karena gie nggak hapal daerah bandung dan hanya berbekal signase dan feeling kami menemukan jalan ke arah Dago. Eh, tetiba Kak S keukeuh ke arah jalan gatsu, seinget gie kalau ke sana semakin menjauh dari pasteur dan mendekat ke arah cirebon wkkwkwkwkkk....dan benar saja kami menjauh dari pasteur, setelah gie menang suit jepang Kak S pun mengalah dan mengikuti petunjuk gie. Kami pun masuk pintu tol pasir koja, Kak S sudah mulai lelah dan berhenti di rest area pertama untuk berganti dengan Mas W. Sepanjang perjalanan pulang kami tertidur dan terbangun di KM97 beli Xbuck. Ada insiden disiram frappucino sama Kak S dan korban jaket Kak J juga baju gie wkwkwkwkk....Abang, hayati kok disiram sih :p

Kembali tertidur dan tau-tau udah sampai di H.E.M.A jam 6.30 malam. Dari Bandung jam 3 sore dan tiga kali berhenti, nggak macet jadi masih sempet dinner di sini. Restaurant favorit kami semua, langsung sibuk memesan menu kesukaan. Gie yang baru bangun dan masih kenyang pesen pancake aja sambil nyemilin pesenan yang lain :D #tetep

Sampai rumah 9.30 dan kami pun beristirahat, insya Allah next trip kami akan ke Lampung ^^

Bandung, bittersweet memory 

Love
@bundagie17

6 comments:

  1. Kalo bawa balita recommende ga gi tempatnya? Temen2 kantor jg blg bagus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sih nggak ya, soalnya perjalanannya lumayan walau bisa naik ojeg. Pas di atas ngeri juga langsung jurang walau Ada pembatas. Balita kan aktif ya, kecuali Mau digendong terus. Better sih anak2 SD jd udah bisa dibilangin #justmy2cent

      Delete
    2. Well noted, thanks infonya neng. Anakku bukan tipe anak yang betah diem aja. Ok tebing keraton see you in a couple of years, hahaha >__<

      Delete
    3. Wkwkwkwk....klo nggak bisa diem bahaya deh mbak....entah mungkin 2016 akan ada pengamanan xtra atau nggak....siapa tau nanti aku ke sana lagi buat honeymoon #eh ha ha ha :D

      Delete
    4. Aseeeek, abis itu ada dedek baru deh. hihihi.. Aamiin ya rabbal alamiiin.. mari buibu yang baca tolong aminin, hihihi.

      Delete

Syukron for coming ^^

Followers

Follow by Email