Friday, February 28, 2014

40km/hr

February 28, 2014 0
Pemandangan sungguh sangat indah terlihat dari kaki gunung ciremai, padahal saat itu aku tidak berada dekat dengannya. Namun, di sebuah jalan yang membentang membelah sawah dari satu kampung menuju jalan besar, terhampar pemandangan yang sungguh menakjubkan, sangat indah....sayang cuaca gerimis dan saya tidak terpikirikan untuk mengambil gambar...karena terlalu terpesona dengan Indahnya pemandangan.

Mio J melaju pelan di sepanjang jalan aspal yang sudah banyak berlubang sehingga menyulitkan pengendara. saya di belakang sambil mengagumi keindahan alam sambil deg-deg an. Maklum saja, tante saya belum terlalu lancar mengendarai motor.Beruntung jalan yang kami lalui termasuk sepi walau beberapa truk melintas memuat rotan. Daerah yang kami lewati adalah daerah yang terkenal dengan pengrajin rotan, sehingga maklum banyak mobil truk, kol bak maupun sepeda motor yang memuat rotan.

Sepanjang perjalanan jujur saja saya gregetan ingin menggantikan beliau, berkali-kali saya tanya pada beliau apakah beliau masih yakin akan melanjutkan perjalanan. Beliau menjawab yakin walau lama-lama seperti tidak yakin. Jadilah sepanjang jalan saya sibuk menjadi navigator, mata kedua dan berdo'a #berlebihan ha ha ha.

Pulangnya rupanya tante saya menyerah, saya pun diminta mengendarai si Mio J. Cuaca cerah cenderung mendung angin sejuk menghembus namun saya sedikit berkeringat dingin. Kenapa, karena sudah sangat lama saya tidak mengendarai sepeda motor. Karena satu dan lain hal, saya yang sejak smp sudah membawa kendaraan (jangan ditiru yaaa :D) selepas sma malah hampir tidak mau lagi membawa kendaraan sendiri. Akhirnya saya pun memberanikan diri dan pelan-pelan melaju pulang ke rumah. Sedikit kagok ketika bertemu pertigaan dan harus belok ke kanan, he he he....sampai juga di rumah dengan selamat. Perjalanan rata-rata 40km/jam saja maklum saya masih membiasakan diri (pembelaan) ha ha ha...sedikit momen yang bikin tante saya sport jantung adalah ketika saya mendahului sebuah angkot dan dari arah berlawanan ada sebuah truk...kwkwkwkk....Alhamdulillah, perjalanan lancar dan selamat sampai di rumah. Untuk di Jakarta sendiri kalau di jalan raya saya masih belum berani mengendarai sepeda motor lagi...terlalu banyak yang "hati-hati" di jalan ha ha ha....

Monday, February 10, 2014

Mogok

February 10, 2014 0
After leha-leha di Central Park, saatnya saya dan nyun untuk kondangan di gedung walikota. Udah cantik plus dapat make up gratisan kami siap meluncur ke acara. Sayang satu hal yang saya lupa adalah mengecek ketersediaan bensin  (-_-")

Sudah cantik dan hampir sampai ternyata oh ternyata bensin habis, ha ha ha....saya ketawa geli sendiri. Saya selalu lupa kalau sobat saya yang satu ini pelupa, suka banget biarin bensin ada di garis merah. Jadilah di bundaran Puri dekat hypermart kendaraan kami mati total setelah sebelumnya sempat di dorong beberapa meter.

Duo cewek cantik di pinggir jalan dengan bawaan heboh dan dandanan nggak kalah heboh dorong kendaraan menuju shell terdekat yang masih beberapa km lagi di depan. Di Bunderan ketika kami berhenti ada seorang bapak cukup baik hati menawarkan membelikan bensin literan.

Nyun agak nggak percaya tapi saya meyakinkan, bahkan beliau sampai meninggalkan helm dan jas hujannya (agak rintik-rintik memang). Sebenernya nggak ngaruh juga sih ditinggalin, wong kita cuma kasih uang 20k aja kok buat beli bensin dan ongkos beliau kwkwkwkkk.

Sepuluh menit kemudian beliau datang menbawa bensin di dalam plastik, Alhamdulillah...duo cewek cantik kembali berkendara menuju ke gedung walikota yang sebenarnya tidak terlalu jauh lagi. Dengan bawaan yang lumayan banyak (titip pak satpam) rambut nyun yang udah berantakan, kita touch up dulu deh sebelum salaman sama penganten.

Ternyata oh ternyata. penganten lagi sibuk foto session. Jadilah kita makan dulu, sate ayam, soto banjar, lontong cap go meh, prasmanan (menu standart), minum jus jambu dan air putih plus makan buah (maklum habis dorong, jadi kelaperan ha ah ha #alibi). Makanan masih banyak terhidang, walau kami sampai sudah jam 8.30 malam (acara sampai jam 9) makanya udah banyak tamu yang pulang dan udah mulai di beres-beresin gitu deh gedungnya.

Make Up Gratisan

February 10, 2014 0
A day with girls, seharian kemarin saya (sok) sibuk mengelilingi Jakarta. Mulai dari kondangan ke sekretaris tercinta, belanja di thamcit, makan sushi di takigawa, make up gratis di sogo sampai jogging malam mau kondangan :D

Thanks to my friend, nyun yang udah belanja banyak di max factor jadi dapet make up gratis plus lip gloss gratis(an) he he he...before kondangan selanjutnya, narsis dulu dong di TRIBECA yang lagia da pertunjukan barongsai dalam rangka Lunar Ney Year.

GreenTea Smoothies n Pyramida Roll





Sunday, February 9, 2014

Wednesday, February 5, 2014

Womanpreuner

February 05, 2014 0
sejak kecil saya sudah terbiasa dengan wanita 'perkasa', keluarga saya dominan para wanita adalah pebisnis. Di mulai dari uyut, anak, bahkan cucunya pun menjalani bisnis. Dan sasa sebagai buyutnya, memang ingin sekali berbisnis. Mengapa ? karena saya ingin fokus pada keluarga saya dan disaat yang sama sama dapat membantu suami saya #ehem dan sebagai bentuk aktualisasi diri.
Dulu sewaktu lulus sma saya diminta membuka sebuah usaha sambil meneruskan kuliah oleh uyut saya, karena uyut saya pernah bilang "wong wadon iku kudu bisa ngurus laki, ngurus anak, ngurus uma lan luru pangan. bagen duwe laki pegawe gen kudu pinter, bokat bae lakie langka kaya mimi masih bisa ngurusi anak bli njaluk ning wong sejen."
Nasihat yang selalu saya pegang teguh sejak dulu, ditambah lingkungan yang mendukung karena saya tumbuh dan dibesarkan dilingkungan para wanita perkasa. Bukan berarti pada prianya tidak perkasa, namun hanya segelintir saja yang berwirausaha dan sisanya bekerja.
Nah, sejak kecil (sekitar SD) saya baca di majalan atau koran atau lihat di tv saya lupa tapi saya langsung kagum dengan beliau. Selain beliau adalah seorang wanita pengusaha, beliau juga berjilbab yang pada saat itu jarang sekali pengusaha wanita ternama mengenakan jilbab. Saya pun mengagumi beliau dan berkata dalam hati bahwa suatu hari nanti saya ingin bertemu dengan beliau, karena beliau salah satu inspirasi saya.
Alhamdulillah, #mimpi saya bertahun-tahun lalu terwujud hari senin yang lalu dalam sebuah acara di daerah gandaria. Saya pun bertemu beliau dan dapat bonus bertemu dengan perancang wanita busana muslim yang pertama saya kenal bertahun-tahun yang lalu dan saya impikan dapat membeli rancangannya pun kesampaian. Alhamdulillah, sungguh Allah maha mendengar, semoga do'a teman-teman dan saya agar bisa mengikuti jejak para womanpreuner didengarkan olehNya dan bagi yang sudah menjadi womanpreuner agar dimudahkan jalannya :) #aamiin

Dewi Motik

Ida Leman


shawl + pin : unbranded || top : miss A || skirt : malioboro || bag : mom's || flat : fleurrete

Sunday, February 2, 2014

Pedesan Entog

February 02, 2014 0
Tanggal merah minggu lalu, pas hari jum'at. bagi teman-teman yang keturunan tionghoa merayakan imlek dengan makan-makan. Mas Amor nggak mau kalah, mengundang kami keluarga IMANI Jabodetabek untuk makan pedesan entog.

Walau yang datang hanya beberapa orang saja tapi acara tetap ramai, dan saya kebagian kloter terakhir. Maklum saja, dari rumah saya habis jum'atan dan sampai di ciracas persis adzan maghrib. Macet ??? sudah biasa, padahal sebenarnya jalanan tidak terlalu macet, hanya saja sampai di kramat jati macet sampai depan PGC.

Ada apa gerangan ??? saya kira ada pasar tumpah atau ada keramaian apa ternyata hanya karena pintu keluar masuk mall lippo kramat jati (-_-"). Mereka yang akan keluar masuk di dahulukan dan angkot dengan tenangnya ngetem di sepanjang jalan.

Mantabs deh, tidak mereka perdulikan nasib kami-kami yang kepanasan di kopaja atau pegal berdiri di dalam traja (TransJakarta). sungguh ironis bukan, kemacetan hanya karena pintu keluar masuk mall, bukan karena ada sesuatu hal...

Kembali ke pedesan entog yang pertama kali saya makan adalah di daerah watubelah, rasanya....mantabs pedasnya....asli pedas dengan kuah pekat yang encer....saya sampai kapok untuk merasakan kembali. Tapi bu amora menjanjikan bahwa pedesan entog buatannya td=idak pedas (namanya bukan pedesan dong bu :p).

Benar saja, ketika saya melihat wujud si entog yang sudah berubah menjadi pedesan dalam sebuah mangkuk lebih coklat dan kuah sedikit lebih kental. Suapan pertama, sensasi pedas terasa namun tidak menusuk tajam dan masih bsia saya toleransi. suapan kedua dengan nasi putih hangat plus tempe tepung kuning menambah selera. Suapan ketiga dengan urap kembang pepaca, sensasi pahit langsung terasa, membuat saya hampir tersedak diakhiri dengan pedas manis si pedesan entog. Berikut wajah-wajah sumringah setelah memakan pedesan entog bu amora


Followers

Follow by Email