Wednesday, November 7, 2012

Imigrasi Jakarta Pusat

Kemarin saya diminta tolong ibu ambil pasport di imigrasi Jakarta Pusat. Saya sih tahu daerah kemayoran tapi ya nggak terlalu tahu #halah....setahu saya pokoknya 'katanya' lokasinya ada di belakang gedung garuda.Saya kan beberapa kali pernah ke askrindo dan melewati garuda sana, jadi yakin aja saya ke sana.
Sempat nanya sama temen apa angkot yang lewat sana dan dikasih clue nya walau dia juga nggak tahu di mana itu kantor.

Jadilah dari senen saya naik Metromini 10 Sunter - Senen dan turun di gedung garuda. Jalan lurus sekitar 300an m dan belok kanan jalan lagi sekitar 200an m. akhirnya sampai juga di gedung imigrasi yang lagi di renovasi. Sampai di sana ke loket pengambilan passport, sempat salah paham dan salah bertemu orang plus saya dikira calo....ya ampun emang saya ada tampang calo ya (-_-") cape deh.

Perjalanan panjang cuma berakhir sebentar, sepuluh menit sudah selesai dan saya langsung meluncur ke jembatan besi. awalnya niat mau naik ojeg, tapi kayaknya naik angkot aja deh biar tahu jalan. Jadilah saya nanya ke petugas satpam dikasih alternatif naik mikrolet 53 Pulogadung - Kota via jalan industri. Jalan lah saya ke jalan industri sekitar 200an m.

Lumayan lama nunggu 53, sekitar 10 menit baru ada. Ternyata keluar persis di gunung sahari raya sebelah hotel The Media [dulunya hotel sheraton]. Muter balik di jembatan merah, lewat mangga dua square dan akhirnya berhenti U-turn depan Harco. Ya ampun, ini mah cuma sampe mangga dua kali nggak sampai kota. saya kira sampai di stasiun atau malah terminal kota dan sudah merencanakan naik M25 nyatanya nggak....capek deh.

Untung ad akopaja 86 dan Kosong....alhamdulillahs aya langsung berlari mengejarnya dan sampailah saya di depan Harco Mangga dua. Duduk manis di 86 sambil baca Madre by Dee ditemani kemacetan sore Jakarta. sampai di jembatan lima dikejutkan dua pemuda punk yang malak uang penumpang, saya memperhatikan orang lain dulu. Jujur saya malas memebri uang kalau tidak terpaksa dan merasa terancam.

Banyak yang tidak memberikan, suara mereka yang keras dan bernada mengancam rupanya tidak digubris penumpang. Akhirnya di rel kereta angke merekapun turun dan menghilang entah kemana. Lucunya saking khusyuknya baca buku saya sampai tidak sadar saya turun di mana. Ketika kernet bus teriak 'jembatan besi....jembatan besi....' saya panik dan bersiap turun.

Jadilah saya turun di jembatan besi II yang nggak tahunya saya masih harus jalan sekitar 300-500an meter sampai ke season city. Gerimis mulai datang tanpa diundang dan saya pun memanggil ojeg mengantarkan saya sampai ke rumah sahabat saya.


No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^

Followers

Follow by Email