Friday, October 12, 2012

Angkot [khusus] Karyawan dan Tunawisma 'tetap'

Ada satu pengalaman yangs aya bilang unik dan menambah pengetahuan saya mengenai dunia per-angkutan umum terutama kalau sudah malam.
Seperti biasa, selewat jam 9 malam saya akan memilih untuk langsung naik C.01 atau Bianglala 44 atau Mayasari 35 dari pada saya harus ke blok M dulu dan nunggu metromini 70.
Nah, suatu waktu saya naik C.01 dari depan sarinah aps jam 10 malam. Saya memilih mobil yang paling depan, karena terlihat sudah penuh, banyak perempuan dan juga saya merasa aman.
Sampai di dalam saya ditanyakan tujuan saya oleh penumpang lain, setelah saya jawab dia bilang "Soalnya ini akryawan semua mbak, jadi nggak lewat blok m langsung ke ciledug."
Wah, menarik...kalau kayak gini mendingan saya naik angkutan yang memang sudah banyak isinya dan karyawan semua jadi saya cepat sampai rumah. Hanya satu jam saja dari sarinah ke rumah saya, padahal biasanya dua jam. Coba Jakarta setiap hari cukup lengang, indah kali ya :D

Jadi kesimpulan saya sebelum naik angkutan umum perbanyaklah bertanya, jeli dan ikuti hati nurani insya Allah aman dan selamat sampai tujuan. Jangan memakai pakaian dan perhiasan serta membawa peralatan/barang yang mecolok sehingga anda tidak menjadi sasaran empuk.

Oia, saya juga mau cerita mengenai salah satu tunawisma yang ada di JPO alias jembatan penyebrangan orang daerah setia budi. Tepatnya di depan Le Merridien hotel, sudah beberapa waktu ini di jaga satu satpam di atasnya. selain itu tidak terlalu banyak penjual, bahkan cenderung tidak ada penjual asma sekali. yang tidak berbeda sejak 2008 lalu adalah seorang tunawisma yang duduk persis di ujung dekat hotel.
Dia masih ada sampai hari ini saya melihatnya, ada di sana sepeti biasa hanya saja sedikit lebih gemuk. Kalau musim hujan, dulu dia selalu membekali dirinya dengan alas dan payung.
Dibeberapa tempat, saya sering melihat mereka...para tunawisma yang sama dari tahun ke tahun tetap seperti itu. Entah malas karena sudah keenakan mendapatkan uang dengan memnta belas kasihan orang, atau memang sudah tidak tahu akan melakukan apalagi.
Saya sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk mereka, selain berbagi sedikit rejeki saya. Itu pun hanya saya berikan sesuai kata hati saya pada orang yang memang menurut saya ngat layak diberi. Atau bahkan kadang saya lebih menghargai pengamen dari pada seorang bapak yang masih mampu bekerja tapi malah meminta belas kasih orang lain. Karena buat saya, pengamen masih memiliki sedikit usaha dari pada orang yang hanya meminta belas kasihan orang lain.

No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^

Followers

Follow by Email