Friday, July 27, 2012

SaLut

Kenek bus/metromini/kopaja [atau di bus transjakarta biasa di sebut satgas (satuan tugas) onboard ] menurut saya adalah salah satu bagian vital dari sebuah bus/angkutan umum. Dulu, angkutan kota pun menggunakan kenek, akan tetapi seiring berjalannya waktu [sekitar awal 2000an] sudah tidak ada angkutan kota yang menggunakan kenek [mungkin di beberapa daerah lain masih ada].
Apabila di kopaja/metromini atau bus kota, apalagi dalam kondisi padat biasanya kenek akan meminta ongkos kepada para penumpang. Dengan lihai dia mengatur penumpang dan menyusup diantara penumpang yang berdesakan.
Tapi yang akan saya ceritakan di sini adalah angkutan umum tanpa kenek. Hal ini beberapa kali saya alami dan sudah 2x saya mengalaminya menggunakan metromini 640. Hanya ada supir yang merangkap kenek bus, setiap penumpang akan berhenti penumpanga kan selalu berjalan ke depan dan memberikan ongkos bus kepada supir.
Salut.....penumpang selalu membayar [sepanjang pengetahuan saya] langsung kepada supir, baik dengan uang pas atau uang kembalian. Apalagi di bulan ramadhan seperti ini, semua penumpang memberikan uang pas kepada supir sehingga supir tidak kesulitan untuk mengembalikan dan tidak terlalu lama berhenti [pastinya Reads semua tau dong, kalau angkutan umum di Jakarta suka berhenti seenaknya dan bisa mengganggu lalu lintas (kecuali transjakarta yang memiliki shelter sendiri) ].
Pengalaman di kopaja P19 lain lagi, pada setiap lampu merah supir berjalan ke arah penumpang dan meminta ongkos. Kebetulan lampu merah di Jakarta cukup lama sehingga masih memungkinkan si supir untuk meminta ongkos. Tapi kalau ada penumpang yang belum sempat diminta ongkosnya, penumpang akan dengan sendirinya memberikan ongkos ke supir sebelum dia turun.
Sepertinya hal ini sudah menjadi kebiasaan di Jakarta, saya jadi ingat apabila melihat drama korea, taiwan bahkan film hollywood yang mana mengharuskan penumpang harus membayar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam bus. Maklum saja, pintu otomatis yang dapat di buka dan di tutup oleh supir bus, kotak uang pun terletak di depan persis saat memasuki bus dan kebiasaan masyarakat di sana.
Saya masih mengharapkan Jakarta bisa memiliki sistem trasnportasi yang nyaman dan mudah. Sehingga tidak adalagi kemacetan di jalan [kecuali lampu merah] dan tidak lagi orang-orang [para commuter] harus berangkat petang pulang petang demi menghindari macet.
Keluar dari topik nih, mudah-mudahan Gubernur terpilih nantinya bisa merapihkan Jakarta tercinta.
Terlepas dari itu semua, saya sungguh salut. Jakarta yang dikenal keras dan kejam ternyata masih banyak orang-orang yang jujur, mengerti hak dan kewajibannya serta perduli sesama.

No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^

Followers

Follow by Email