Tunggu Aku di Jakartamu

Tunggulah aku di Jakartamu
Tempat labuhan semua mimpiku
Tunggulah aku di kota itu
Tempat labuhan semua mimpiku 

Gerimis tak menghalangiku melangkahkan kami menuju stasiun pasar senen, siang itu aku menjemput dia dari Jogja. Sehari sebelum Idul Adha dia datang ke Jakarta, sebelumnya kami sempat berdebat akan Raya Agung (dalam bahasa cirebon Lebaran Idul Adha biasa disebut Raya Agung atau Hari Raya Besar). Akhir-akhir ini kami sering berdebat, bahkan bertengkar hebat. Tapi lagi-lagi dia terus mengalah, dia selalu tahu kapan harus diam dan bicara.

Idul Fitri yang lalu, adalah pertengkaran terhebat kami. Namun, demi keluarga besar kami pun meredam ego - atau tepatnya akulah yang meredam ego. Di hari nan suci, ketika seharusnya kami bermaafan dan kembali ke fitrah entah kenapa malah suasana semakin panas. Mungkin benar kata orang tua, semakin serius dan dekat dengan rencana baik maka akan semakin banyak godaan dan hambatan yang terjadi.


Seperti biasa dia begitu sabar menghadapiku, lebih banyak diam dan berusaha menenangkan aku. Dalam perjalanan menuju rumahnya, tak henti aku berbicara. Semakin kesal karena dia hanya diam dan sesekali menanggapi, walau dalam hati aku sadar dengan diamnya dia ingin aku berhenti. Dengan diamnya dia ingin mengalah, bukan untuk kalah tapi karena dia tahu bahwa api tidak bisa dilawan dengan api.

Sampai rumahnya, aku merubah mimik wajahku. Sungguh bagaikan artis profesional, aku menampilkan wajah ceria seperti biaanya seolah antara aku dan dia tidak terjadi apa-apa. Ketika waktu makan siang tiba, kami terlibat diskusi. Lebih tepatnya dia dengan Abah, diskusi mengenai masa depannya, masa depan kami yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Aku lebih banyak diam dan mengamati, sampai akhirnya diskusi mereka menjadi panas. Sore hari ketika kami menuju mall untuk mengajak para sepupu dan ponakan makan serta jalan-jalan kembali terlibat perdebatan yang seolah tiada akhir. Sampai aku lelah dan berkata "Sudah cukup sampai di sini, melihat keputusan dan sikap yang kamu ambil siang tadi membulatkan tekadku untuk berhenti sampai di sini."

Hari berlalu dan waktu berganti, Jogja - Jakarta memang tidak jauh namun juga tidak dekat. Menyatukan mimpi dan cita-cita memang tidak mudah. Walau aku tahu sejak 2004 ini adalah mimpinya, mimpi yang akan di wujudkannya di tahun 2012. Dimana aku wisuda dan dia pun telah menyelesaikan kuliahnya yang sempat terhenti akibat cuti. Tahun dimana kami berencana untuk membangun mimpi, bersama berjalan berdampingan. Namun ternyata waktu merubah kami, merubah aku tepatnya. Delapan tahun bukan waktu yang singkat tapi juga tidak terlalu lama. Bertahun-tahun kami di pisahkan hingga akhirnya Februari 2011 Allah mempertemukan kami kembali di Jogja.

Aku berdiri gelisah, berkali-kali melirik jam tanganku. Kenapa dia begitu lama, bukankah aku yang terlambat. Seharusnya dia sudah ada di luar menanti kedatanganku, tapi ini aku sibuk menelpon tanpa jawaban, sms tanpa balasan juga sudah bertanya kepada petugas bahwa kereta dari jogja sudah datang sepuluh menit lalu. Aku semakin gelisah, hati ini semakin tidak sabar bahkan kepala ini semakin panas menunggu kedatangannya.
"Dek, maaf lama menunggu. Tadi akang ke toilet dulu dan ngantri panjang"
"Duh, terus kenapa handphone kok nggak dijawab."
"Di silent Dek, akang nggak sadar kamu telpon."
"Percuma punya Hp kalau nggak bisa digunain" Jawabku ketus
"Maaf"
"Ya udah, percuma ngomong sama akang mah."
Aku pun berlalu begitu saja, dia tergopoh mengikuti langkahku keluar stasiun. Satu setengah jam kemudian kami sudah sampai rumah, keluargaku menyambutnya hangat seperti biasa. Ini kali pertama dia berkunjung ke rumah kami di Jakarta. Sebelumnya kami biasa saling berkunjung di Kampung, keluarga besar kami pun bertemu di kampung.

Dulu, ketika kami terpisah di tahun 2006 seorang teman bertanya padaku
"Anna, Andaikan Dia Datang Kembali bagaimana ?"
"Entahlah, karena Jodh, Maut dan Rejeki itu rahasia Allah."
Dan akhinya di 2011 kami dipertemukan kembali, dan dia datang melamarku tanpa persiapan dariku. Begitu yakin dia ketika memintaku sampai aku tang sanggup berkata tidak.

Raya Agung ini sama seperti Idul Fitri kemarin adalah kali pertama kami bersama, bedanya Idul Fitri di kampung dan Raya Agung di Jakarta. Keluargaku memang jarang seklai mudik di Raya Agung, tahun ini pun begitu. Ketika mendengar Akang akan datang ke Jakarta keluargaku senang sekali sampai sibuk memeprsiapkan ini dan itu, aku sendiri biasa saja dan berharap dia tidak jadi datang.

Pagi nya kami berjalan bersama menuju masjid, selepas itu menyaksikan Qurban di Masjid komplek. Siangnya kami keliling saudara di Jakarta yang memang tidak mudik, pulangnya aku dan Akang berpisah dan menuju daerah Benhil untuk silaturahmi dengan sahabat lamanya.Diperkenalkan sebagai calon istrinya, ada kebanggaan dalam suaranya, ada kebahagiaan di sinar matanya dan aura yang terlihat begitu bercahaya. Aku jadi merasa bersalah sendiri, dalam hati ini ingin rasanya pergi dari sana.

Perjalanan ke rumah tanpa suara, diam dalam keheningan. Hanya suara deru kendaraan, pengamen dan klakson yang terdengar. Besoknya dia kembali ke Jogja, berat memang....tapi aku memutuskan untuk mengatakannya sekarang.

"Kang, maaf....sepertinya aku bukan untukmu" Kulepas cincin yang diberikannya dan ku kembalikan padanya. Antara siap dan tidak dia menerima itu, aku tahu sudah beberapa waktu kami membicarakan hal ini dan aku pun tahu dia sudah memeprsiapkan dirinya dan tetap berharap bahwa kejadian ini tidak terulang.

"Dek...."
"Maaf"
"Sama seperti 2006 lalu"
"Aku nggak mau terburu-buru"
"Tapi..."
"Maaf, aku rasa bukanlah yang terbaik untukmu. Pasti kamu akan menemukan seseornag yang jauh lebih baik dari pada aku."
"Kamu yang membuat aku jatuh cinta pertama kali dalam hidupku, kamu yang membuat aku mengerti akan pentingnya cita dan cinta, aku mengagumi kemandirian dan kerja kerasmu, aku yang selalu berharap dan berdoa agar kelak engkau menjadi pendampingku. Tapi mungkin memang kita tidak berjodoh, aku bahagia selama kamu bahagia. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, aku tahu engkau akan mendapatkan pendamping yang luar biasa dan itu bukan aku."

Selama dia berbicara hati ini begitu mendung, tapi aku tahan dan berusaha untuk tegar. Mungkin aku memang menyakitinya, tapi aku percaya bahwa dia bukan untukku. Bahwa kelak dia akan menemukan seseorang yang bersama menggapa surga Nya dan itu bukan aku. Biarlah aku bawa keegoisan ku, biarlah aku pendam kekecewaanku dan aku terima resiko akan keputusanku.

Siang itu, stasiun Pasar Senen menjadi saksi akan kisah cinta kami. Jakarta tempat mimpinya berlabuh justru malah menghancurkannya, cinta yang selama ini dia pendam dan perjuangkan ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Aku tahu sakit yang dia rasakan, mungkin akan membuat dia benci padaku. Tapi aku yakin dengan berjalannya waktu luka itu akan sembuh dan dia akan bahagia, sama seperti aku.

4 comments:

  1. Jadiiiiii, ada apa sama arifin kw? Jadi endingnya beneran begini ni gie? huhuhu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkwkwkwkk, coba baca andaikan kau datang kembali ^^

      Delete
    2. Hahaha.. aduh mamak2 jangan dibikin bingung deh gie, pusing nanti, happy ending aja deh ya plis, hahaha..

      Delete
    3. Doanya aja ya mamak2 wkwkwkwk, doa mamak2 tuh langsung cussss...nembus langit ^^

      Delete

Syukron for coming ^^