Andaikan Kau Datang Kembali

Aku tau ku takkan bisa, menjadi seperti yang engkau minta
Namun selama, nafas berhembus aku kan mencoba
Menjadi seperti yang kau minta....

Pernah ngak sih kalian menghadapi dilema, dimana ada dua pilihan dan ternyata ketika kalian memilih satu diantaranya tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan. Ketika sebuah pilihan terasa imbasnya kemudian hari, memang sih setiap pilihan pasti ada resikonya. Apapun yang kita lakukan dalam hidup ini tentu atas seijin-Nya. Aku percaya apa yang kita lakukan itu yang kita dapatkan, seperti ketika kita berbuat kebaikan maka hanya hal baik yang akan kita dapat, begitu juga sebaliknya jika kita melakukan kejahatan kepada orang lain.

Aku nggak tahu apakah pilihanku termasuk jahat atau baik, hanya saja pada saat itu aku merasa ini adalah hal terbaik yang dapat aku lakukan. Mungkin pada saat itu aku merasa ini adalah hal yang terbaik bagi kita semua, dan mungkin sampai sekarang pun begitu. Walau kadang pertanyaan dalam hati dan pikiran ini mengangguku. Benarkah keputusan yang aku ambil dulu ?


Juni 2004 
Aku dan kamu bertemu di masa orientasi siswa, dimana kita hanya bertatap mata tanpa bisa berkenalan. Siapalah aku yang hanya seorang murid baru sedangkan kamu, senior yang populer dan memiliki banyak penggemar. Pertama aku melihatmu ketika sahabatku di kelas lain memberitahukan padaku

"Anna, di kelas ada senior yang mirip Arifin Putra"
"Masa sih" aku tidak percaya
"Kalo lo nggak percaya, besok pas jam istirahat atau pulang lo ke kelas gue."
"Okeh"

Esoknya, ketika bel istirahat berbunyi aku segera berlari menuju kelas 1.3. Sayang belum rejeki ku bertemu dengannya, sampai di sana kelas sudah bubar dan aku tidak menemukan si Arifin Putra-kw. Dengan kecewa aku berbalik menuju tukang bakso langganan yang ada di balik kelas ku. Sampai di depan tukang bakso aku melihat seseorang yang mirip Arifin Putra, tapi hanya sekilas saja. Ketika dia tersenyum ramah, terlihat giginya yang gingsul menambah manis senyumnya. Tapi semakin di perhatikan sama sekali tidak mirip, beliau menyapaku ramah dan aku pun berusaha seramah mungkin. Maklum saja aku tahu dia seniorku walau entah siapa namanya, aku tak mau mendapatkan masalah selama masa orientasi.

Bel pulang berbunyi, biasanya Ferra, sahabatku sudah menunggu di depan kelasku. Maklum kelasku selalu paling akhir jika pulang, tapi hari ini berbeda. Kelas 1.3 masih belum bubar, karena aku tidak menemukan sosok Ferra yang semampai dengan rambut model Dora ada di depan kelasku. Langsung saja aku meluncur ke 1.3, berharap masih bisa melihat Arifin Putra-kw. Kekecewaanku ternyata bertambah, walau aku sudah berlari ke 1.3 tetapi aku tak dapat bertemu dengannya. Aku pun manyun sepanjang perjalanan pulang, sedangkan Ferra tertawa melihat tingkahku.

Sampai hari terakhir aku masih tidak bertemu dengan senior satu itu, kalian paham kan kenapa aku terobsesi banget mau ketemu dia ?
Masih inget si unyu Arifin Putra di Video Klip Chrisye - Kisah Kasih di Sekolah ? ini video ada jaman aku SMP dan entah kenapa jadi suka banget sama Arifin. Walau sebelumnya sering lihat Arifin di majalah dan berkhayal bisa jadi pacarnya. Nah, pas Ferra kasih tau kalau ada yang mirip Arifin gimana nggak penasaran coba ?

Hari terakhir adalah hari dimana demo ekskul, semua murid baru duduk mengelilingi lapangan basket dan menonton aksi semua ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Sejak hari pertama orientasi sebenarnya kami sudah diberikan pembekalan mengenai ekskul apa saja yang ada di sekolah. Paskibra, PMR, Pramuka, Teater, Hadroh, Band, Tata Busana, Tata Boga, Basket, Volly, dan Jurnalistik. Aku sendiri sudah menentukan pilihanku jauh sebelum masuk ke SMA.

Aku dan Ferra duduk berdampingan, walau di SMA kami tidak satu kelas tapi kami berhasil masuk SMA yang sama.
"Mpe, mana senior yang mirip Arifin ?"
"Deuh Na, penasaran bener sih. Sabar sedikit dong nanti juga dia ada."
"Emang dia ekskul apa sih ?" aku masih penasaran
"Nggak seru dong klo gue cerita sekarang. Udah jangan rewel, lihat tuh anak teater lucu banget"
Aku hanya bisa merengut sambil menonton anak-anak teater mendemokan kabaret. Nggak sabar menanti dan sambil sibuk mencari dimana gerangan senior ganteng itu. Selepas anak teater giliran anak Pramuka yang mendemonstrasikan kegiatan mereka.

"Mpe, itu yang mirip Arifin ?" aku menunjuk senior yang beberapa waktu lalu bertemu di mamang bakso.
"Bukan, itu mah Kak Upi. Mata lo musti make kacamata kayaknya, masa Kak Upi mirip sama Arifin Putra."
Aku kembali merengut, heran biasanya aku paling cepet mengenali orang dan nggak pernah luput merhatiin cowok keceh, entah kenapa kali ini aku tidak menemukannya. Sejak awal masuk sampai sekarang aku masih belum tahu si senior keceh itu. Padahal hampir semua orang membicarakannya, yang aku dengar dari Ferra dan teman lain di kelas senior ini emang High Most Quality Jomblo  dan banyak penggemarnya. Dari mulai anak baru kayak kita ini sampai alumni sekolah.

Katanya nih, dia nggak cuma ganteng nan keceh tapi baik hati dan tidak sombong. Nggak cuma jadi favorit junior tapi juga kesayangan guru-guru karena otaknya yang cerdas. Bikin makin penasaran kan ? kalian aja penasaran apalagi aku. Kesal aku menunggu dan sepertinya Ferra menikmati sekali kekesalanku, sedari tadi dia menggodaku terus. Kalau bukan karena masih anak baru dan wajib menonton, ingin rasanya aku kembali ke kelas.

Matahari mulai meninggi, aku sudah bosan setengah mati di lapangan sampai Ferra mencubit lenganku.
"Aduh, apaan sih sakit tau"
"Lo sih ngelamun mulu, mikirin apaan sih ?"
"Cerewet"
"Gue tau, lo mikirin si senior kan"
"Apaan sih" aku merasa wajahku memanas
"Alah, nggak usah ngeles"
"Udah ah, malu tau."
"ha ha ha" Ferra tertawa "Udah nggak usah galau, tuh lihat di lapangan"

Aku mengarahkan pandangan ke lapangan, satu pleton anggota paskibra masuk dengan langkah tegap menggunakan PDL. Tidak ada yang aneh kecuali seseorang yang memberikan komando, aku sampai tidak berkedip melihat siapa yang menjadi danton.
"Cie..." Ferra menggodaku, aku terpana tidak bisa berbicara apapun. "Jangan bengong gitu ntar kesambet lho"
"Itu, itu...yang jadi danton"
"Iya, itu dia. Namanya Maulana"

Agustus 2004
Sebagai anak baru, perintah senior tidak boleh di bantah termasuk untuk latihan selepas pulang sekolah. Padahal hari ini aku malas sekali, pelajaran Kimia dan Fisika sudah membakar otak. Tapi apalah daya junior yang harus tunduk dengan perintah senior. Aku dan Ferra terpilih untuk mengikuti lomba gerak jalan dan LKBBI dalam rangka hari kemerdekaan Indonesia ke 58. Sebenarnya junior atau anak baru belum boleh mengikuti lomba, tapi karena kami berdua semampai dan sudah mengikuti paskibra sejak SMP maka kami terpilih (padahal sih mereka kekurangan orang kayaknya). Latihan bersama kelas 2 selalu membosankan, diantara mereka (terutama yang perempuan) sok kuasa dan cerewet bener. Apalagi Kak Ami dan Kak Nurul, duh pengen banget deh aku jambak mereka. Seneng bener nyuruh dan nyiksa anak baru.

Siang itu aku benar-benar lelah dan badmood, Ferra sudah menjaga agar aku jangan sampai meledak. Ferra tau kebiasaan burukku, jika aku sedang dalam kondisi bete jangan pernah diganggu. Tapi tidak dengan seniorku, sejak jam 1 kami mulai latihan sepertinya ada saja kelasalahan yang aku buat. Langkah kurang tegap lah, suara kurang lantang, posisi sikap sempurna yang salah, dan masih banyak lagi. Sampai jam empat sore ketika aku sedang push up untuk kesekian kali aku mendengar suara yang asing.

"Sudah Cukup" Pelan namun tegas, terkesan dingin dan tanpa ampun. Aku yang dalam posisi push up tidak dapat melihat siapa yang memberi perintah tapi dapat merasakan kondisi sekitarku berubah.
"Kamu bangun" aku mendengar perintah, aku pun mengikutinya dan jantungku copot ketika malihat bahwa yang menyuruhku adalah Kak Maulana. Belum hilang kekagetanku, Kak Maulana mengulurkan sebotol air mineral, melihatku yang tetap diam dengan sikap sempurna Kak Maul pun menyerahkan botol ke dalam genggaman tanganku "Kamu minum dulu, saya perhatikan dari tadi kamu dihukum terus."

Belum sempat aku mengucapkan terima kasih, Kak Maul berlalu begitu saja dari hadapanku. Tak mau menyiakan pemberian Kak Maul aku pun langsung balik kanan dan minum. Aku tidak mau ambil pusing dengan para seniorku yang kebingungan melihat sikap Kak Maul kepadaku. Aku sendiri tidak kenal secara pribadi dengannya, hanya tahu bahwa dia adalah senior paskibra, osis dan juga salah seorang siswa terpandai dan jelas banyak penggemarnya.

September 2004
Aku dan Ferra sedang berdiri di depan Polsek menunggu angkutan lewat, seperti biasa kami sibuk membicarakan isi majalah yang baru saja dibeli Ferra.
"Anna" aku mendengar seseorang memanggil namaku, kulihat Kak Maul ada di depanku
"Ya Kak" jawabku gugup, entah mengapa setiap melihatnya atau berada di dekatnya aku selalu merasa ada kupu-kupu berterbangan dan detak jantung meningkat tajam.
"Pulang Bareng yuk."

Hari berlalu dan tahun pun berganti, tak terasa tujuh tahun berlalu sejak pertama kami bertemu. Walau jarak jauh memisahkan, aku di Jakarta dan Kak Maul di Jogja namun kami tetap bersama. Hingga di hari ulang tahunnya Kak Maul melamarku tanpa bertanya dulu padaku secara pribadi. Di depan puluhan pasang mata, Kak Maul dengan gitarnya bernyayi.

"Lagu ini aku persembahkan buat dia yang telah menemaniku, dia yang mengerti aku dan selalu mendukungku dalam setiap hariku."

They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you, I promise you, I will

Lucky I'm in love with my bestfriend
Lucky to have been where I have been
Lucky to becoming home again
Lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to becoming home someday

"Anna, will you marry me" aku yang tidak siap hanya bisa diam dan membisu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sampai Kak Maul datang dan menghampiriku yang sedang duduk. Dia berlutut dan sekali lagi menanyakan hal yang sama "Anna, maukah kamu menjadi istriku ?"

Aku bingung, jika aku menolak maka dia akan malu dan jika aku menerima apakah aku sudah siap. Aku merasa di tekan, di depan orang banyak aku tidak mungkin melakukan kesalahan. AKu juga tidak mau menyakitinya, akhirnya aku pun tersenyum dan mengangguk. Semua orang bersorak gembira, suasana begitu gegap gempita namun hatiku merasa hampa.

Seminggu kemudian aku terbang ke Jogja, kembali pulang dan bertemu dengannya. Aku mengajaknya ke warung tempat kami biasa makan dulu, kali ini dia memboncengku dengan motor. Aku ingat, tujuh tahun yang lalu kemana-mana kami menggunakan sepeda atau angkutan umum. Aku dan dia memang berbeda namun perbedaan itu tidak menjadikan kami berpisah. Kini dia sudah menajadi seorang guru dan sedang melanjutkan S2 agar bisa menjadi dosen.

"Kak"
"Hem..."
"Nggak jadi deh"
"Kenapa Dek, tumben kamu malam ini nggak cerewet. Gimana kerjaan kamu di Jakarta ?"
"Ya gitu aja"
"Kenapa, kamu lagi bete ya."
"Kak, kalau seandainya aku minta kakak untuk cari perempuan lain gimana ?"
Kak Maul yang sedang makan langsung tersedak, buru-buru aku memberinya segelas es teh manis.
"Maksud kamu apa Dek ?"
"Ng...."
"Kamu nggak mau jadi istri Kakak ?"
"Bukan begitu, aku...aku..."
"..."
"Maafin aku Kak, sepertinya aku bukan orang yang tepat."

Aku pun pergi meninggalkannya, meninggalkan Jogja juga meninggalkan cincin dan kenangan kami. Aku hanya meninggalkan sepucuk surat yang menjelaskan kepergianku, bukan aku tidak cinta bukan aku tidak sayang tapi aku sedang dalam masa puncak karirku. Tepat di hari Kak Maul melamarku aku baru saja di promosikan dan pindah ke Singapura, di mana kantor perwakilan asia tenggara berada. Dalam syarat tersebut dinyatakan bahwa aku tidak boleh menikah selama dua tahun dan harus mau melakukan perjalanan keliling dunia. Sebuah hal yang menjadi impianku sejak lama, apalagi fasilitas dan tunjangan yang aku dapatkan sangat besar untuk gadis seusiaku.

Jika aku memilih menikah, maka aku harus puas hanya menjadi karyawan biasa dan ibu rumah tangga. Bukan aku tidak suka menjadi ibu rumah tangga hanya saja aku tidak yakin bahwa Kak Maul akan mampu menafkahiku. Sedangkan dia sendiri masih punya empat adik yang menjadi tanggungan, gajinya sebagai guru dan dosen tamu rasanya tidak cukup untuk kami. Aku ingin memiliki tabungan sebelum aku menikah dengannya, aku ingin ikut membantu keluarganya namun aku tahu egonya begitu tinggi. Aku memilih menerima promosi dengan harapan mampu menabung dan kelak membuka usaha.

Tapi tanpa berdiskusi denganku dia melamarku, aku kira perjalanan kami masih jauh. Aku masih muda, baru 22 tahun dan sudah mendapatkan kesempatan emas. Dia sendiri baru 24, aku pun ingin dia berkembang. Aku mendukungnya mengajar, cita-citanya untuk bisa S3 di luar negeri dan membuka kursus. Tapi saat ini aku merasa kami belum mampu, dia belum cukup mapan untuk menjadi kepala keluarga. Aku tidak mau akan terjadi kesenjangan diantara kami, apalagi keluarga besarku cukup ketat mengenai bebet, bibit, bobot. Walau kedua orang tuaku tidak masalah dengan Kak Maul dan sudah merestui kami sejak SMA.

Aku mencintainya, tapi ego ku tak bisa kukesampingkan begitu saja. Aku dengan segala yang aku punya dan aku capai di usia muda ternyata justru malah menggelapkan mata. Orang tuaku sudah memberiku nasehat, jika aku jujur pada Kak Maul dia pasti mengerti. Aku tahu, Kak Maul akan melakukan apapun yang aku minta karena dia tulus menyayangiku. Tapi pergaulan dan lingkunganku yang baru membuatku sedikit malu, semua temanku memiliki pasangan yang mapan sedangkan aku ? Aku bukannya malu pada Kak Maul tapi aku malu pada teman dan kolegaku yang menilai seseorang dari luar saja. Aku ingin Kak Maul mapan dan meraih mimpinya baru kami berdampingan bersama.

Manusia hanya berencana dan Tuhan yang menentukan, dua tahun kemudian aku pulang ke Jakarta. Tidak dapat langsung ke Jogja karena aku harus membereskan beberapa pekerjaan terlebih dahulu. Selama dua tahun aku menutup komunikasi dari Kak Maul, hanya mendengar dari Ibuk bahwa saat ini dia sudah selesai S2 dan sudah membuka kursus sendiri. Mengajar di berbagai kampus dan sedang persiapan S3 ke Adelaide. Aku bangga kini lelakiku sudah mencapai apa yang dicitakan, kini lelakiku sudah mapan dan sudah membuktikan bahwa dia mampu bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi
Adakah cara yang kau temui, untuk kita kembali lagi

Aku tidak memberitahukan kedatanganku kepada Ibuk dan Bapak, begitu mendarat di Jogja aku langsung menuju tempat kursus Kak Maul. Bermodalkan alamat yang diberikan Ibuk, aku menyusuri daerah umbul harjo hingga sampai ke sebuah kursus dengan dominan warna merah, warna kesukaan kami.

"Permisi Pak, apa pak Maulana nya ada ?"
"Nggeh Mbak, Mas Maul ada di dalam sedang mengajar. Maaf Mbak siapa ?"
"Saya Anna"
"Monggo Mbak Anna tunggu di ruang tamu, nanti kalau Mas Maul sudah selesai saya infokan."
"Terima kasih pak"

Setengah jam kemudian datang seorang gadis cantik berjilbab hijau muda membawa rantang, aku mendengar Pak satpam di depan tadi menyapanya. Gadis tersebut masuk ke ruang tamu dan menyapaku

"Mbak Anna ya ?"
"Iya, maaf apa saya mengenal mbak ?"
"Ndak, tapi saya mengenal Mbak dari cerita Mas Maul dan dari Foto"
Entah mengapa aku merasa perutku mulas dan jantungku berdegub kencang, berbagai pikiran buruk melintas, belum sempat aku menjawab tetiba aku mendengar suara yang sudah kukenal dan sudah kurindukan dua tahun terakhir.

"Loh Dek kamu kok ke sini " kami bersamaan menengok ke asal suara, kumelihat kekagetan di wajahnya tapi dia segera bersikap tenang. Masih sama seperti sembilan tahun yang lalu, tapi sepertinya ada yang berubah. Panggilan itu, tatapan itu, kehangatan itu sepertinya bukan untukku.
"Mas, ini lho ada Mbak Anna datang." aku mendengar gadis itu, yang kutahu bernama Gendhis memberitahukannya
"Oh, iya."
"Mas, sini lho duduk kok berdiri saja di sana."
"Kak..."
"Anna, perkenalkan ini Gendhis istriku."
Bagaikan petir menyambar dan kepalaku terhantam godam raksasa, aku tidak mampu bernafas juga berfikir.

Ternyata ketika uang dan status aku dapatkan aku harus kehilangan cinta, ketika aku mendewakan kemapanan aku lupa bahwa rejeki Tuhan yang mengatur. Ketika aku malu pada orang lain aku lupa bahwa dia begitu tulus ada untukku, ketika egoku begitu tinggi aku lupa bahwa kebahagiaan tidak melulu soal harta.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menuslis Cerpen "Pilih Mana : Cinta atau Uang ?" #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com 

No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^