Pedesan Entog

Tanggal merah minggu lalu, pas hari jum'at. bagi teman-teman yang keturunan tionghoa merayakan imlek dengan makan-makan. Mas Amor nggak mau kalah, mengundang kami keluarga IMANI Jabodetabek untuk makan pedesan entog.

Walau yang datang hanya beberapa orang saja tapi acara tetap ramai, dan saya kebagian kloter terakhir. Maklum saja, dari rumah saya habis jum'atan dan sampai di ciracas persis adzan maghrib. Macet ??? sudah biasa, padahal sebenarnya jalanan tidak terlalu macet, hanya saja sampai di kramat jati macet sampai depan PGC.

Ada apa gerangan ??? saya kira ada pasar tumpah atau ada keramaian apa ternyata hanya karena pintu keluar masuk mall lippo kramat jati (-_-"). Mereka yang akan keluar masuk di dahulukan dan angkot dengan tenangnya ngetem di sepanjang jalan.

Mantabs deh, tidak mereka perdulikan nasib kami-kami yang kepanasan di kopaja atau pegal berdiri di dalam traja (TransJakarta). sungguh ironis bukan, kemacetan hanya karena pintu keluar masuk mall, bukan karena ada sesuatu hal...

Kembali ke pedesan entog yang pertama kali saya makan adalah di daerah watubelah, rasanya....mantabs pedasnya....asli pedas dengan kuah pekat yang encer....saya sampai kapok untuk merasakan kembali. Tapi bu amora menjanjikan bahwa pedesan entog buatannya td=idak pedas (namanya bukan pedesan dong bu :p).

Benar saja, ketika saya melihat wujud si entog yang sudah berubah menjadi pedesan dalam sebuah mangkuk lebih coklat dan kuah sedikit lebih kental. Suapan pertama, sensasi pedas terasa namun tidak menusuk tajam dan masih bsia saya toleransi. suapan kedua dengan nasi putih hangat plus tempe tepung kuning menambah selera. Suapan ketiga dengan urap kembang pepaca, sensasi pahit langsung terasa, membuat saya hampir tersedak diakhiri dengan pedas manis si pedesan entog. Berikut wajah-wajah sumringah setelah memakan pedesan entog bu amora


No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^