Tilang

Senin Minggu lalu saya 2x di tulang. Bukan saya sih, pagi Bianglala 44 yang ditilang di Pakubuwono dan Malamnya C01 ditilang di semanggi. Yang lucu pas malam, si C01 kan biasa deh lewat jalan yang dari depan plasa semanggi, jalurnya P19/motor. Nah pas sampai di samping Polda tiba2 si supir ngeliat masih ada 44 di depan halte polda. Jadilah dia seenaknya balik kanan lewat kolong jembatan semanggi. Padahal sama penumpang di belakang udah dkasih tahu ada polisi. Nah saya yang duduk di depan juga ngeliat sih ada polisi, tapi yang naik mobil dan beliau lewat begitu aja.
Ternyata kata penumpang yang di belakang ada polisi naik motor dan benar saja belum juga kami turun ke Jalan sudah ditilang. Si supir tenang aja ngasih stnk, katanya kasih aja dua puluh ribu di atas nanti. Benar saja, kami muter ke atas, ke arah slipi dan ada pos polisi di sana. Si supir turun dan nggak lama kembali di apun tertawa dan mengatakan "benar kan, cuma kasih dua puluh aja udah bebas, kalau di tangerang mah dikasih seratus lima puluh juga tetep nggak dikasih, malah bisa dikandangin mobil."
Aku mendengar percakapan yang miris sekali antara si supir dan seorang penumpang, yang mengatakan kalau polisi di tangerang sok menegakkan peraturan hanya karena salah seorang petinggi baru. Kok ya didisiplinkan nggak mau masyarakat kita ini, sudah jelas salah maunya benar terus....sampai kapan juga budaya suap masiha kan terus ada selama masyarakat nggak mau sama-sama mengontrolnya.

Nah, kemarin ditilang lagi kali ini di depan halte polda arah ke bunderan HI. Biasa, 44 mau masuk ke jalur cepat, cuma dia mendahului dari sisi kiri jadilah diberhentikan tepat sebelum masuk ke jalur cepat. salahs i supir juga sih, diminta sim malah si supir marah mau suap. si polisi lebih marah lagi, disuruh ke depan dan minggir. saya sempat mendengar si polisi mengatakan "kamu mabuk ya, ada yang bsia bawa mobil nggak" ternyata si kenek nggak bisa bawa mobil jadilah si polisi minta stnk, sim dan stnk ternyata nggak ada makin marah lah si polisi apalagi sikap si supir yang memang menurut saya kurang ajar. Jadilah si kenek ditinggal di sana mungkin bersama bpkb atau surat tilang sim dan stnk-nya, karena saya melihat tas kecil yang diserahkan yang biasanya isi stnk dan bpkb. setelahnya si supir bawa motor seenak sendiri hampir saja mencelakakan pengguna jalan lain.

Selain itu, kalau saya naik 44 siang hari serings ekali masuk jalur busway dari mulai setiabudi sampai tosari. Sekali waktu pernah saya harusnya turun di bank muamalat malah harus turun di tosari hanya karena dia masuk jalur busway dan nggak bisa berhenti sembarangan. jadilah saya harus jalan dari tosari ke bank muamalat jam 1 siang. bukan masalah jalannya, tapi masalah membahayakan penumpang ketika dia melintasi pembatas busway. belum lagi pengendara lain dan juga kemungkinan lainnya. 44 banyak dinanti tapi bikin keki, sebisa mungkin saya sih kalau nggak perlu banget nggak naik 44 ha ha ha....

No comments:

Post a Comment

Syukron for coming ^^